bertaut tajuk
bambu di Dusun Bambu
jalan pun teduh

(Versi I)


bertaut bambu
siang di Dusun Bambu*
jalan pun teduh

(Versi II)

Foto: Wan Hanim Atan

Komentar ulasan Fauzul El-Nurca (admin grup New Haiku Indonesia):

  1. Penggunaan kata “tajuk” pada teks awal, secara langsung menjelaskan bahwa yang bertaut itu adalah ujung/pucuk-pucuk bambu; Pada teks kedua, pilihan kata “siang” (mungkin untuk memenuhi syarat kigo), sedikit menggeser “kesederhanaan” bahasa dan gambaran yang hendak dihadirkan. Alasannya, kata “siang” sudah cukup terwakili oleh kata “teduh” di L3, baik pemaknaan gambaran maupun untuk hal kigo. Kedua teks di atas dapat kita keker “menggunakan kacamata” toriawase-haiku; 1. bertaut tajuk bambu di Dusun Bambu ~(kire)~ jalan pun teduh
  2. bertaut bambu, siang di Dusun Bambu (kire) jalan pun teduh
  3. Memang tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan kedua teks tersebut, namun memilih pengungkapan yang lebih sederhana, dan meminimalkan “pengulangan” makna (apalagi kata), buat saya adalah titik pertimbangan paling menentukan.
  4. Saya berharap ini menjadi saran, paling tidak mencoba berbagi melalui karya bung Juru Baca yang cukup menginspirasi, terutama buat sahabat NHI lainnya… Salam EGOLESS